Para Pekerja Optimis Tentang Masa Depan

Masa depan dunia kerja menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak orang, terutama di tengah dua disrupsi besar yang sedang terjadi, yaitu revolusi industri 4.0 dan pandemi Covid-19. Kedua fenomena ini membawa perubahan yang signifikan bagi cara kerja, jenis pekerjaan, dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerja. Bagaimana pandangan para pekerja tentang masa depan dunia kerja serviced office jakarta pusat? Apakah mereka optimis atau pesimis? Apa saja kekhawatiran dan harapan mereka?

Optimisme Para Pekerja
Menurut sebuah survei global yang dilakukan oleh Microsoft dan Boston Consulting Group (BCG) pada tahun 2020, sebagian besar pekerja di dunia merasa optimis tentang masa depan dunia kerja1. Survei ini melibatkan lebih dari 25.000 pekerja dari 25 negara, termasuk Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa 61% pekerja merasa optimis, 33% merasa netral, dan hanya 6% yang merasa pesimis.

Salah satu alasan optimisme para pekerja adalah adanya peluang untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja masa depan. Survei ini menemukan bahwa 74% pekerja ingin meningkatkan keterampilan digital mereka, 70% ingin meningkatkan keterampilan sosial dan emosional mereka, dan 69% ingin meningkatkan keterampilan kognitif mereka. Selain itu, 66% pekerja merasa percaya diri bahwa mereka dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Optimisme para pekerja juga didorong oleh adanya dukungan dari perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Survei ini menunjukkan bahwa 64% pekerja merasa didukung oleh perusahaan mereka untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru, 59% merasa didukung oleh pemerintah, dan 58% merasa didukung oleh masyarakat. Dukungan ini dapat berupa fasilitas, insentif, bimbingan, atau pengakuan.

Kekhawatiran Para Pekerja
Meskipun merasa optimis, para pekerja juga tidak lepas dari kekhawatiran tentang masa depan dunia kerja. Survei yang sama menunjukkan bahwa 40% pekerja khawatir bahwa pekerjaan mereka akan berubah atau hilang akibat teknologi, 39% khawatir bahwa mereka tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk bersaing, dan 37% khawatir bahwa mereka tidak dapat menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kekhawatiran para pekerja ini tidaklah tanpa alasan. Menurut sebuah laporan dari World Economic Forum (WEF) pada tahun 2020, sekitar 85 juta pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin pada tahun 2025, sementara sekitar 97 juta pekerjaan baru akan muncul yang membutuhkan keterampilan yang berbeda. Laporan ini juga memperkirakan bahwa sekitar 50% pekerja di dunia perlu meningkatkan keterampilan mereka dalam waktu lima tahun ke depan.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga memberikan dampak yang besar bagi dunia kerja. Banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, mengalami pemotongan gaji, atau harus bekerja dari rumah. Hal ini menimbulkan tantangan baru bagi pekerja, seperti stres, isolasi, atau kesulitan beradaptasi dengan perubahan.

Harapan Para Pekerja

Untuk mengatasi kekhawatiran dan mengoptimalkan peluang, para pekerja memiliki harapan-harapan tertentu tentang masa depan dunia kerja. Survei dari Microsoft dan BCG menemukan bahwa 76% pekerja mengharapkan perusahaan mereka untuk memberikan pelatihan dan pengembangan keterampilan yang relevan, 75% mengharapkan perusahaan mereka untuk memberikan fleksibilitas dalam hal waktu dan tempat kerja, dan 74% mengharapkan perusahaan mereka untuk memberikan kesejahteraan dan keamanan kerja.

Selain itu, para pekerja juga mengharapkan pemerintah untuk berperan aktif dalam membantu mereka menghadapi masa depan dunia kerja. Survei ini menunjukkan bahwa 78% pekerja mengharapkan pemerintah untuk memberikan bantuan finansial bagi pekerja yang terkena dampak teknologi atau pandemi, 77% mengharapkan pemerintah untuk memberikan akses pendidikan dan pelatihan yang terjangkau dan berkualitas, dan 76% mengharapkan pemerintah untuk memberikan perlindungan sosial dan hukum bagi pekerja.

Scroll to Top